Satu hari di kamar berukuran sekitar 2×4 meter itu, saya pernah menunggu dengan penuh harapan, bahwa satu hari dia akan mengetuk kamarku, memohon maaf, dan memintaku untuk pulang bersamanya.
Dengan rambut panjang keemasan yang terkena pantulan sinar matahari siang, dan tertiup oleh angin selatan, sang putri menunggu dengan sabar di balkon istananya. Suatu hari pasti sang pangeran berkuda putih akan datang menjemputnya kembali.
Setelah mengetahui bahwa tidak akan mungkin kejadian itu terjadi, saya pun berhenti berharap. Menginginkan hal itu terjadi, iya. Berharap, tidak. Suamiku ternyata sedang jatuh cinta dan menanti buah hatinya dengan perempuan lain. Itu fakta. Dan fakta itu yang harus kuhadapi sendiri.
Hari ini, siang ini.
Mendengarkan lagu yang liriknya kembali mengingatkan pada kejadian beberapa bulan lalu itu, membawaku ke refleksi setahun belakangan ini.
Kira-kira setahun lalu, di kamar kecil berukuran 2×4 meter itu, aku bertanya kepada suami yang menceraikanku, “Mengapa kamu tidak menceraikanku setahun yang lalu? Karena saat ini, setahun setelah itu, saya pasti akan tidak sesakit ini”.
And here I am, setahun kemudian
Cecilia (Simon and Gurfunkel)
Celia, youre breaking my heart
Youre shaking my confidence daily
Oh, cecilia, Im down on my knees
Im begging you please to come home
Celia, youre breaking my heart
Youre shaking my confidence daily
Oh, cecilia, Im down on my knees
Im begging you please to come home
Come on home
Making love in the afternoon with cecilia
Up in my bedroom (making love)
I got up to wash my face
When I come back to bed
Someones taken my place
Celia, youre breaking my heart
Youre shaking my confidence daily
Oh, cecilia, Im down on my knees
Im begging you please to come home
Come on home
Jubilation, she loves me again,
I fall on the floor and I laughing,
Jubilation, she loves me again,
I fall on the floor and I laughing