Tags

, , , ,

Opo jarene (apa kata) Embah Marijan?”, tanya Lik Wakino kepadaku.
“Dia bilang dia nggak akan ngungsi, yang lain disuruh tidak mengikutinya. Yang jelas, ora gelem (tidak mau) ngungsi, pokoke”, jawabku sambil berlari.

Di antara sirine yang meraung, juga pukulan kentongan, dari kejauhan bisa kudengar Siti berteriak-teriak memanggil Rubiah – emaknya, si Parijan memanggil Bude-nya, si Mbok Mijil memanggil keponakannya. Semuanya berlari tergopoh-gopoh menuruni jalan aspal itu. Beberapa sepeda dan motor berhamburan melewati kami.

Baru saja menginjakkan kaki di kampung, setelah beberapa saat berada di penampungan. Lega kembali berada di tempat kelahiran. Kekhawatiran akan bagaimana nasib ternak dan peliharaan setelah sekitar empat hari yang lalu ditinggalkan. Baru saja aku menambah rumput bagi Kliwon – sapi kesayanganku dan Rubinem, kakak sulungku – dan menepuk-nepuk punuknya, sirine sudah berbunyi. Kuingat perasaanku, antara kesal, panik, sedih, nelangsa, bersemangat. Semua teraduk-aduk menjadi satu. Aku dan beberapa orang di dekatku mendongak ke atas. Dan benar! Dia datang lagi! Tanpa berpikir panjang lagi, aku melepas tali si Kliwon, dan membawanya lari. Sambil aku berteriak-teriak memanggil kakakku untuk menyuruhnya keluar dan menyelamatkan diri.

Ngopo (kenapa) kamu bawa si Kliwon, Man?”, tanya Mbok Jinah yang melintasiku.
Mesakke (kasihan), Mbokde”, jawabku.
Ealah, kamu ndak bisa lari kalau membawa-bawa dia, mbok uwis to (sudahlah) … lepaskan saja”, katanya lagi sambil menghilang di antara kerumunan orang di depanku.
Aku tidak peduli. Memang tidak mudah membawa lari Kliwon. Kalau panik dia pasti berhenti, dan aku akan terpaksa menarik-nariknya dengan frustasi. Mudah-mudahan tidak, Kliwon sedang bersahabat denganku, kupertahankan lari kecilku agar Kliwon tidak mogok.

Sambil berlari, kuingat kembali peristiwa sekitar sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih sekitar lima tahun. Aku diajak oleh Yu Nem untuk berbelanja ke kota – istilah kami penduduk yang tinggal di kaki gunung. Kami tidak punya firasat apa-apa ketika dia datang melintasi desa kami. Keadaan yang cepat itu menyisakan kenangan pahit bagi kami berdua. Pakne, Makne, Yu Silah, Lik Ijan, Lik Un, De Siti Lemu, Mak Seti, seluruh anggota keluarga kami tercinta, beserta puluhan penduduk lainnya, telah diambil nyawanya. Tabrak lari – ya, itu mungkin kata-kata yang pas. Meninggalkan puing-puing dan jenasah berarang. Aku tak ingat harus merasakan apa, ketika mengetahui bahwa sejak saat itu aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, kecuali Yu Nem.

Aku berlari menghapus air mataku. Ternyata aku menangis. Mengapa aku menangis? Tidak jelas juga mengapa. Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin Kliwon mati. Aku tidak ingin Yu Nem mati, atau siapapun mati karena awan panas itu. Tapi apa daya kita, manusia kecil-kecil jika dibandingkan dengan gunung sebesar itu? Kena awannya saja kita sudah tinggal nama. Oh Gusti, nyuwun pangapunten, bisikku dalam hati. Aku memohon maaf kepada Gusti Allah, sadar bahwa aku melarikan diri untuk menyelamatkan nyawaku. Mati atau tidak aku saat ini, aku tidak akan meninggalkan Kliwon, Celingak-celinguk menyadari bahwa Yu Nem telah berada di depan kami. Nyawaku telah diselamatkan pada saat itu, dan aku berjanji akan menyelamatkan satu nyawa saat ini.

Kupalingkan kepalaku kebelakang. Wedhus gembel terlihat sangat anggun dan kokoh. Berwarna keabuan seakan sebagai beribu-ribu kambing berbulu gembel yang sedang melaju. Begitu besar ciptaan Gusti. Terkesima dan kemudian terkesiap ketika melihat penduduk lain di belakangku yang berlarian berhamburan meyelamatkan nyawa mereka sendiri.

Aku kemudian mencoba mempercepat langkah si Kliwon, meneruskan menangis dan berlari.

(repost May 15, 2006)

Advertisements