Tags

, , , , ,

AC di mobil terasa dingin sekali. Keinginan itu muncul lagi. Menggebu-gebu. Tiga hari lamanya aku mencoba keras untuk melupakannya. Tapi hawa dingin dan cuaca yang mendung, sangat mendukung.

“Sayang, cakung

“Kamu pengen ya? Iya, cuaca mendukung sekali”

“Perjalanan masih lama ya? Duh, macet segala. Kalau di sini aja gimana ya, Baby?”

“Hus, kalau dilihat orang lain kan malu. Masih terang sayang. Kalau malem aja ga papa”

Dia mengedipkan matanya padaku.

“Ah, kamu”, jawabku sambil mencubit sayang lengannya.

Dorongan itu sangat kuat. Membuatku terengah-engah.

Kekasihku mengetahui keadaanku dan hanya mengelus-elus punggung tanganku dengan sayang. “Sabar baby, bentar lagi nyampe rumah. Kamu bisa lepaskan semua. Puasin semuanya, ya?”

Aku mengangguk. Gerbang rumah mulai terlihat.

Duh, satu menit seperti satu hari.

“Ayo buruan sayaaaang”, nafasku semakin memburu.

Kulepaskan semuanya.

Aku puas.

“Makanya, tokai jangan dipiara”

“Sial loe”, jawabku sambil ngeloyor ke dapur.

(repost Jan 20, 2005)

Advertisements