Tags

, , , , , ,

bye, five!
si lima puluh berpamitan pada kami semua.
dan bye, kami semua menjawab.
tidak tahu berapa lama lagi aku harus menunggu.

excuse me, excuse me
kata si kakek sambil tersenyum menerabas kerumunan orang yang menunggu lampu merah untuk menyeberang.
siang itu hujan.

tek tek, tek tek
tongkat besi sang kakek berbunyi beradu dengan jalanan,
sepatu ibu-ibu tua yang membawa tas merah,
sepatu adik kecil yang digandeng bapaknya,
dan si belang yang sedari tadi duduk di sana.

si belang terkejut lantas beranjak,
si adik terpana melihat tongkat sang kakek,
dan si ibu melotot lantas menyeringai.

tek tek, tek tek.

tiga hari sudah aku berada di tempat yang pengap ini.
panas tidak, basah tidak.

tapi mending daripada aku harus berada di tempat yang berbau amis,
tempat terakhir sebelum di sini.

sebelumnya lagi aku berada di tempat berdebu,
dalam tempat keras berbunyi nyaring selama beberapa waktu.

sebelumnya lagi, aku berada di tempat berasap yang berbau sedap.
seperti bau makanan yang digoreng.

tiba-tiba bye semua,
kata si sepuluh panjang, satu bulat, dan duapuluh bulat tidak lama kemudian.

bye
kata kami – dan saya – lagi.

berapa lama lagi?

thank you,
kata erick sebelum menutup tempat pengap ini.
terguncang lagi kami kebawah, sebelum kemudian naik lagi.

masuklah si dua panjang baru,
dan tanpa dinyana,
aku merasakan badanku ditarik dengan kasar.

thankyou,
kata si erick lagi.

terang!

aku bisa bernapas.

kuhirup dalam-dalam bau hujan dengan cepat sebelum masuk ke tempat gelap lainnya.

krek-krek

aku merasa diriku panas
aku diremat!

dan gelap kembali.

hey semua

hey, kata mereka
lima, duapuluh, satu – semua bulat.

dan satu pemantik.

seperti biasa aku merasakan diriku berayun.

di tempat yang luar biasa sempit ini hampir mustahil aku tidak menyentuh badan teman-teman bulat yang lain.

badanku sakit.

ngilu,
tergores.

biasakan dirimu, lima panjang,
kata mereka semua,
tempat ini jauh lebih enak daripada seharian dalam kain yang bau.

memang sih, wangi parfum tersebar di sini.

sambil berayun aku bisa merasakan hujan lamat-lamat mengenaiku tembus melalui kain tempat aku diletakkan.

dan tiba-tiba,

kami merasakan ayunan melambat.

dari kejauhan aku dengar bunyi seruling.

merdu sekali.

kami behenti.

suara itu membius kami.

si duapuluh yang berparas ayu berkulit bening tersenyum padaku dan katanya,

ayolah berdansa denganku, lima!

dan kami berdansa.

teman yang lain bersiul-siul,
dan sisanya bertepuk tangan.

belum pernah aku merasakan senyaman ini.

sampai akhirnya,

tangan besar berbulu yang berbau tembakau masuk kedalam kantong celananya.

kami semua tergetar.

semua berhenti menikmati suara seruling merdu itu dan,
sesegera setelah itu,
terang di depan kami.

bau hujan,
bunyi seruling menghentak kami.

bapak, terimakasih atas lagunya, teringatlah aku akan seseorang yang pernah kucinta di waktu yang lampau,
kata lelaki berbau tembakau campur parfum ini dalam bahasa inggris berlogat cina.
bapak itu mengangguk sambil melepaskan serulingnya dari bibirnya,
dan tersenyum menerima kami.

berpindahlah kami,
kepingan uang logam dan kertas,
ke tangan bapak tua buta bertongkat besi,
di bawah gerimis hujan,
di suatu taman di orchard road,
singapura.

(repost June 26, 2006)

Advertisements